Jumat, 06 Mei 2016

Tuhan,
Bukankah katamu kita semua sama saja dimatamu?
Kenapa harus ada perbedaan?
Kenapa aku terlihat berbeda dengannya?
Apakah dia berdosa bila dia tetap berani mencintaiku?
Apakah bila dia tetap mencintaiku berarti dia melawan kehendak orang yang harus ia patuhi?
Apakah aku juga berdosa bila aku merasa senang bila ia mencintaiku?
Apakah aku juga berdosa bila aku mengharapkan dia tetap bersamaku?
Apakah Kau masih mau mendengarkan doaku tentangnya?

Senin, 04 April 2016

Let me tell you about "Kamu"nya Aku.
Jadi, dia orang pertama yg gue kenal di kampus.
Dia orang pertama yg gue anggep temen di kampus.
Dia orang pertama yg gue curhatin.
Dan, (mungkin) gue jg orang pertama yg dia curhatin di tempat baru.
Dia orang pertama yg gue pesen buat nebengin gue tiap ke kampus.
Dia orang pertama yg gue anggep asik banget buat jadi temen.
Dia orang yang gue cariin kalau gue ga ada temen cewek gue.
Dia orang yang satu kelompok sama gue di ospek fakultas.
Dia orang yang gue ceritain tentang orang-orang yang deketin gue waktu itu.
Sampe pada akhirnya, dia juga yang suka sama gue.
Dia yang ngungkapin pertama kali kalo dia suka sama gue ketimbang cowok-cowok yang ngedeketin gue waktu itu.
Dia yang bilang "Aku maunya pacaran serius. Aku mau kamu yang jadi ibu buat anak-anakku nanti".
Dan dia yang gue terima pada akhirnya.
Dia orang pertama yang gue surprise-in di kota gue kuliah.
Dia orang yg gue cuekin pada awal kita jadian.
Dia orang yg gue anggurin.
Dia orang yg bikin gue khawatir pas denger dia sakit.
Dia orang yg gue tunggu-tunggu chatnya.
Dia orang pertama yg nyanyiin gue lagu.
Dia orang yg bikin gue ngerasa se-special itu.
Dia yg jago gambar. Dan suka gambar lucu dengan nama gue.
Dia yg bikin gue ngarep digambarin.
Dan dia yg memamerkan lukisan yang terinspirasi dr gue di pameran untuk umum.
Dia yg gue banggain di depan sahabat-sahabat gue.
Dia orang pertama yg gue ajak main keluar kota berdua.
Dia orang pertama yg gue senderin bahunya.
Dia orang yg bikin gue seneng kebangetan.
Tapi, dia juga orang yg bikin gue sedih kebangetan.
Dia orang yang bikin gue pengen nunjukin kalo gue lemah, pdhl gue selalu kuat didepan yg lain.
Dia orang yang selalu bikin gue aman dan nyaman kalo gue sama dia.
Dia alasan gue kenapa harus balik lagi ke kota ini.
Dia alasan gue kenapa gue nolak buat ga lanjut kuliah dan nunggu tahun depan.
Dia orang yang gue sayang. Amat sayang.
Tapi, dia juga yang ngebuat gue harus ikhlasin "Kita".

Senin, 07 Maret 2016

Malam ini.
Entah untuk yang keberapa kalinya
Gue nangis lagi.
Setelah kejadian kemarin-kemarin,
Gue lebih sensitive sekarang,
Gue lebih sering galau gara-gara hal sepele,
Gue lebih sering menyalahkan diri gue sendiri,
Gue lebih sering kesel sama diri gue sendiri,
Gue lebih takut sekarang,
Takut Dia pergi.
Takut Dia jenuh.
Takut Dia ngerasa kalo Dia engga penting buat gue.
Ketika rasa sayang ini semakin dalam,
Dan rasa takut semakin besar.
Kenapa Kamu terlihat berubah?
Jenuh kah?
Kumohon jangan.

Senin, 22 Februari 2016

Dari : Aku
Untuk : Kamu

Terimakasih untuk menjadi Kamu-nya Aku.
Terimakasih telah melunturkan segala kecanggunganmu.
Terimakasih untuk menanyakanku untuk kembali.
I love you too, mas pacar.
He he he.

Kamis, 18 Februari 2016

Mati-matian kamu menolakku dan menganggapku tak ada,
Disaat aku juga mati-matian berusaha untuk berdiri setegar karang untukmu?
Berhentilah menjadi ombak ganas yang mengikis segala pertahananku.
Aku mohon.

Selasa, 16 Februari 2016

Apakah semuanya terlalu terlambat?
Apakah kesalahanku kalau aku baru memperjuangkanmu sekarang?
Apakah kamu tidak bisa lihat perjuanganku?
Apakah semuanya memang sudah tidak bisa diperbaik?
Apakah ini tidak ada artinya bagimu?
Ketika aku harus menurunkan egoku untuk memulai percakapan,
Ketika aku harus menurunkan egoku untuk mengajak kamu pergi,
Dan ketika aku harus memutar otak agar kamu tidak merasa bosan.
Hm?
Apakah tidak ada artinya?
Atau memang sudah terlalu terlambat?
Iya.
Aku masih ingin berjuang.
Jangan tanya untuk siapa.
Kamu sudah tahu pasti siapa yang ku maksud.
Iya, Kita.

Text Mengikuti Kursor