Monday, 18th July 2016. 7:14 p.m.
Aku rindu kamu.
Sangat.
Bell's World
Senin, 18 Juli 2016
Rabu, 13 Juli 2016
Ketika pertama kali aku menemukannya,
Aku tidak pernah menyangka kalau dia akan menjadi orang yang penting untukku.
Ketika aku bercerita dengannya,
Aku tidak pernah menyangka kalau dia akan menjadi bagian dari ceritaku selanjutnya.
Ketika aku berbagi tawa dengannya,
Aku tidak pernah menyangka kalah tawanya sangat membuatku bahagia.
Dan ketika aku mencintainya,
Aku tidak menyangka akan sedalam dan setulus ini.
Kata orang,
Kamu akan jatuh cinta kepada orang yang membuatmu tertawa.
Tapi nyatanya,
Aku akan semakin jatuh cinta kepadanya saat dia tertawa.
Aku suka dengannya.
Mungkin harus ku ulang,
Aku suka sekali dengannya.
Aku tidak pernah menyangka kalau dia akan menjadi orang yang penting untukku.
Ketika aku bercerita dengannya,
Aku tidak pernah menyangka kalau dia akan menjadi bagian dari ceritaku selanjutnya.
Ketika aku berbagi tawa dengannya,
Aku tidak pernah menyangka kalah tawanya sangat membuatku bahagia.
Dan ketika aku mencintainya,
Aku tidak menyangka akan sedalam dan setulus ini.
Kata orang,
Kamu akan jatuh cinta kepada orang yang membuatmu tertawa.
Tapi nyatanya,
Aku akan semakin jatuh cinta kepadanya saat dia tertawa.
Aku suka dengannya.
Mungkin harus ku ulang,
Aku suka sekali dengannya.
11:40 p.m.
Keyakinan.
Iya, hanya itu yang kita butuhkan.
Semua akan berjalan seperti apa yang kita yakini.
Aku yakin.
Sangat yakin, kalau kamu dan kita bisa.
Aku yakin.
Kalau kamu tak akan mundur lagi.
Aku yakin.
Kamu kuat dan akan selalu kuat ke depannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tapi apakah kamu yakin juga?
Apakah keyakinanmu sama dengan apa yang aku yakini?
Tak bisakah kamu pura-pura tuli dengan apa yang mereka ucapkan tentangku?
Bukankah yang tahu aku sepenuhnya hanya kamu?
Iya, hanya itu yang kita butuhkan.
Semua akan berjalan seperti apa yang kita yakini.
Aku yakin.
Sangat yakin, kalau kamu dan kita bisa.
Aku yakin.
Kalau kamu tak akan mundur lagi.
Aku yakin.
Kamu kuat dan akan selalu kuat ke depannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tapi apakah kamu yakin juga?
Apakah keyakinanmu sama dengan apa yang aku yakini?
Tak bisakah kamu pura-pura tuli dengan apa yang mereka ucapkan tentangku?
Bukankah yang tahu aku sepenuhnya hanya kamu?
Rabu, 08 Juni 2016
Salah satu hal yang paling kusuka dr beribu hal yang aku suka lakukan dengannya adalah,
Menikmati perjalanan dengannya.
Semua terjadi begitu mengalir
Kita bercerita, bernyanyi, bercanda.
Aku suka.
Aku suka saat bukan hanya aku yang cerewet bercerita, namun dia juga.
Aku suka saat kita bernyanyi bersama.
Aku suka saat dia menggodaku dan membuatku marah.
Aku suka.
Sangat suka.
Dan aku menyadari,
Ternyata
Aku menyukai semua hal yang kulakukan dengannya.
Menikmati perjalanan dengannya.
Semua terjadi begitu mengalir
Kita bercerita, bernyanyi, bercanda.
Aku suka.
Aku suka saat bukan hanya aku yang cerewet bercerita, namun dia juga.
Aku suka saat kita bernyanyi bersama.
Aku suka saat dia menggodaku dan membuatku marah.
Aku suka.
Sangat suka.
Dan aku menyadari,
Ternyata
Aku menyukai semua hal yang kulakukan dengannya.
Jumat, 06 Mei 2016
Tuhan,
Bukankah katamu kita semua sama saja dimatamu?
Kenapa harus ada perbedaan?
Kenapa aku terlihat berbeda dengannya?
Apakah dia berdosa bila dia tetap berani mencintaiku?
Apakah bila dia tetap mencintaiku berarti dia melawan kehendak orang yang harus ia patuhi?
Apakah aku juga berdosa bila aku merasa senang bila ia mencintaiku?
Apakah aku juga berdosa bila aku mengharapkan dia tetap bersamaku?
Apakah Kau masih mau mendengarkan doaku tentangnya?
Bukankah katamu kita semua sama saja dimatamu?
Kenapa harus ada perbedaan?
Kenapa aku terlihat berbeda dengannya?
Apakah dia berdosa bila dia tetap berani mencintaiku?
Apakah bila dia tetap mencintaiku berarti dia melawan kehendak orang yang harus ia patuhi?
Apakah aku juga berdosa bila aku merasa senang bila ia mencintaiku?
Apakah aku juga berdosa bila aku mengharapkan dia tetap bersamaku?
Apakah Kau masih mau mendengarkan doaku tentangnya?
Senin, 04 April 2016
Let me tell you about "Kamu"nya Aku.
Jadi, dia orang pertama yg gue kenal di kampus.
Dia orang pertama yg gue anggep temen di kampus.
Dia orang pertama yg gue curhatin.
Dan, (mungkin) gue jg orang pertama yg dia curhatin di tempat baru.
Dia orang pertama yg gue pesen buat nebengin gue tiap ke kampus.
Dia orang pertama yg gue anggep asik banget buat jadi temen.
Dia orang yang gue cariin kalau gue ga ada temen cewek gue.
Dia orang yang satu kelompok sama gue di ospek fakultas.
Dia orang yang gue ceritain tentang orang-orang yang deketin gue waktu itu.
Sampe pada akhirnya, dia juga yang suka sama gue.
Dia yang ngungkapin pertama kali kalo dia suka sama gue ketimbang cowok-cowok yang ngedeketin gue waktu itu.
Dia yang bilang "Aku maunya pacaran serius. Aku mau kamu yang jadi ibu buat anak-anakku nanti".
Dan dia yang gue terima pada akhirnya.
Dia orang pertama yang gue surprise-in di kota gue kuliah.
Dia orang yg gue cuekin pada awal kita jadian.
Dia orang yg gue anggurin.
Dia orang yg bikin gue khawatir pas denger dia sakit.
Dia orang yg gue tunggu-tunggu chatnya.
Dia orang pertama yg nyanyiin gue lagu.
Dia orang yg bikin gue ngerasa se-special itu.
Dia yg jago gambar. Dan suka gambar lucu dengan nama gue.
Dia yg bikin gue ngarep digambarin.
Dan dia yg memamerkan lukisan yang terinspirasi dr gue di pameran untuk umum.
Dia yg gue banggain di depan sahabat-sahabat gue.
Dia orang pertama yg gue ajak main keluar kota berdua.
Dia orang pertama yg gue senderin bahunya.
Dia orang yg bikin gue seneng kebangetan.
Tapi, dia juga orang yg bikin gue sedih kebangetan.
Dia orang yang bikin gue pengen nunjukin kalo gue lemah, pdhl gue selalu kuat didepan yg lain.
Dia orang yang selalu bikin gue aman dan nyaman kalo gue sama dia.
Dia alasan gue kenapa harus balik lagi ke kota ini.
Dia alasan gue kenapa gue nolak buat ga lanjut kuliah dan nunggu tahun depan.
Dia orang yang gue sayang. Amat sayang.
Tapi, dia juga yang ngebuat gue harus ikhlasin "Kita".
Jadi, dia orang pertama yg gue kenal di kampus.
Dia orang pertama yg gue anggep temen di kampus.
Dia orang pertama yg gue curhatin.
Dan, (mungkin) gue jg orang pertama yg dia curhatin di tempat baru.
Dia orang pertama yg gue pesen buat nebengin gue tiap ke kampus.
Dia orang pertama yg gue anggep asik banget buat jadi temen.
Dia orang yang gue cariin kalau gue ga ada temen cewek gue.
Dia orang yang satu kelompok sama gue di ospek fakultas.
Dia orang yang gue ceritain tentang orang-orang yang deketin gue waktu itu.
Sampe pada akhirnya, dia juga yang suka sama gue.
Dia yang ngungkapin pertama kali kalo dia suka sama gue ketimbang cowok-cowok yang ngedeketin gue waktu itu.
Dia yang bilang "Aku maunya pacaran serius. Aku mau kamu yang jadi ibu buat anak-anakku nanti".
Dan dia yang gue terima pada akhirnya.
Dia orang pertama yang gue surprise-in di kota gue kuliah.
Dia orang yg gue cuekin pada awal kita jadian.
Dia orang yg gue anggurin.
Dia orang yg bikin gue khawatir pas denger dia sakit.
Dia orang yg gue tunggu-tunggu chatnya.
Dia orang pertama yg nyanyiin gue lagu.
Dia orang yg bikin gue ngerasa se-special itu.
Dia yg jago gambar. Dan suka gambar lucu dengan nama gue.
Dia yg bikin gue ngarep digambarin.
Dan dia yg memamerkan lukisan yang terinspirasi dr gue di pameran untuk umum.
Dia yg gue banggain di depan sahabat-sahabat gue.
Dia orang pertama yg gue ajak main keluar kota berdua.
Dia orang pertama yg gue senderin bahunya.
Dia orang yg bikin gue seneng kebangetan.
Tapi, dia juga orang yg bikin gue sedih kebangetan.
Dia orang yang bikin gue pengen nunjukin kalo gue lemah, pdhl gue selalu kuat didepan yg lain.
Dia orang yang selalu bikin gue aman dan nyaman kalo gue sama dia.
Dia alasan gue kenapa harus balik lagi ke kota ini.
Dia alasan gue kenapa gue nolak buat ga lanjut kuliah dan nunggu tahun depan.
Dia orang yang gue sayang. Amat sayang.
Tapi, dia juga yang ngebuat gue harus ikhlasin "Kita".
Senin, 07 Maret 2016
Malam ini.
Entah untuk yang keberapa kalinya
Gue nangis lagi.
Setelah kejadian kemarin-kemarin,
Gue lebih sensitive sekarang,
Gue lebih sering galau gara-gara hal sepele,
Gue lebih sering menyalahkan diri gue sendiri,
Gue lebih sering kesel sama diri gue sendiri,
Gue lebih takut sekarang,
Takut Dia pergi.
Takut Dia jenuh.
Takut Dia ngerasa kalo Dia engga penting buat gue.
Entah untuk yang keberapa kalinya
Gue nangis lagi.
Setelah kejadian kemarin-kemarin,
Gue lebih sensitive sekarang,
Gue lebih sering galau gara-gara hal sepele,
Gue lebih sering menyalahkan diri gue sendiri,
Gue lebih sering kesel sama diri gue sendiri,
Gue lebih takut sekarang,
Takut Dia pergi.
Takut Dia jenuh.
Takut Dia ngerasa kalo Dia engga penting buat gue.
Langganan:
Komentar (Atom)